Tuesday, 16 June 2015

PENINGGALAN SOSIAL BUDAYA GARUT

PENINGGALAN SOSIAL BUDAYA GARUT



Description: https://mulihkagarut.files.wordpress.com/2010/10/babancong.jpg1.BABANCONG





Barangkali tidak banyak orang yang memperhatikan terhadap tempat atau bangunan serta kuliner sekalipun yang memang sudah berusia cukup lama mencapai puluhan tahun betah tinggal di Kota Garut, mempertahankan ciri khasnya. Tempat  tempat lama ini, mungkin menjadi kenangan bagi warga Garut yang sudah berada di perantauan begitu lama serta sesekali berkunjung ke kampung halamannya di Garut menjadikan sebuah tempat kunjungan khusus yang penuh memori.  
Misal, bangunan monumental Babancong, kono hanya tinggal dua di Jawa Barat ini, yaitu Garut dan Pandeglang. Bangunan peninggalan  sejarah itu di Garut tetap berdiri menghadap lapang Otista dan kerap dipakai dalam satu upacara kenegaraan oleh Pemerintah daerah setempat.
Kemudian, rumah penjara yang berada pas di bagian Timur Babancong, juga sama bangunan tempat menampung orang jahat tersebut dibangun oleh pemerintahan colonial Belanda puluhan tahun lalu mungkin sudah mencapai satu abad usianya. Walau bangunan ini bagian depannya sudah tidak utuh lagi karena direnovasi oleh  Departemen Kehakiman, saat itu disesuaikan dengan kebutuhan. Tetapi sebagian besar masih asli.
Gedung bioskop “ Odeon “, yang sejak puluhan tahun lalu diubah namanya menjadi Cikuray, sama merupakan bangunan lama yang peruntukannya tidak berubah yaitu gedung bioskop tempo  doeloe, ketika film masih bisu. Konon berdasarkan ceritera orang tua, di gedung bioskop ini, seniman  seniman local yang biasa bermain musik tersalurkan serta menjadi hajat hidup mereka sehari  hari. Karena, film bisu hanya diiringi oleh musik secara “ live “ yang dibawakan oleh para seniman lokal itu. Sudah barang tentu, lagu serta iramanya harus disesuaikan dengan alur ceritera. Sementara kini keadaan gedung bioskop Odeon itu, beralih fungsi menjadi tempat futsal, billiard serta cape untuk bagian dalamnya dan luarnya sudah dijadikan took busana. Tetapi secara keseluruhan kondisi bangunan masih utuh.


Gedung Dinas Pariwisata, ini juga sama peninggalan jaman dulu, dimana asalnya sebagai tempat tinggal. Kondisi bangunan ini sama sekali tidak dirubah oleh pemerintah daerah dibiarkan seperti aslinya. Sedang penambahan bangunan baru dibuat disisi utara dan belakang. Namun pada prinsipnya gedung bersejarah ini tetap berdiri kokoh dan masih digunakan.
Tempat kuliner yang masih bertahan di Garut, diantaranya rumah makan “ Enjon “, yang kini berganti nama menjadi Wan Sa Min. Rumah makan khas sunda ini telah ada sejak jaman colonial Belanda, tetapi entah tahun berapa mulai adanya rumah makan tersebut. Karena kini pemiliknya merupakan generasi penerus yang entah pula keberapa.
Warung Soto “ Ahri “ yang terletak di sebuah gang di kawasan Jl. Mandalagiri, ini juga sama sebuah tempat makan yang konon berusianya mencapai 70 tahunan lebih. Kini pemiliknya merupakan generasi ke dua setelah almarhum H. Ahri meninggal dunia kini perusahaan tersebut diambil alih oleh puteranya H. Endang. Sajian menu dan tempat berjualannya pun tetap dipertahankan seperti aslinya, yaitu seperangkat “ tanggungan “ yang dijadikan sebagai tempat penyajian bahan makanan sayur jenis soto. Begitu pula tempatnya tidak beranjak dari asal, tetap di gang itu dengan atap dinaungi oleh kanopi serta tempat duduk untuk para pelanggan memakai bangku panjang. Sementara, alat  alat masaknya pun, tetap memakai tungku arang kayu dan sama sekali tidak memakai bahan pengawet atau penyedap.
Masih di JL . Mandalagiri, yaitu tempat belanja yang berlokasi persis di pinggiran jalan rek kereta api, yaitu pasar “ dalekdok “. Entah apa namanya disebut dalekdok. Mungkin jalur jalan kecil yang dipakai tempat jualan itu tidak rata karena berbatuan sehinga berjalan tidak bisa nyaman sebab banyak sandungannya. Namun keberadaan pasar tempat membeli sayuran dan kebutuhan dapur ini, sudah lama  mungkin usianya mencapai 80 tahunan lebih. 
Pasar Dalekdok, walaupun berada di pusat kota, tetapi tetap tidak berubah baik kios tempat jualannya, maupun barang yang dijajakannya masih sayuran dan kebutuhan dapur. Begitu jalannya tetap sempit dan tidak diplester layaknya seperti gang  gang di perkampungan. Pasar dalekdok, tetap begitu dan becek disaat hujan.

2.PRASASTI CIARUTEUN
Description: http://basrihasan.files.wordpress.com/2009/01/4-prasasti-cilauteureun.jpg
 





Penemuan Prasasti Ciaruteun pertama kali dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Weten-schappen (sekarang Museum Nasional) pada tahun 1863. Lokasi ditemukannya Prasasti Ciaruteun ini merupakan suatu bukit yang diapit oleh tiga sungai: Sungai Cisadane, Sungai Cianten, dan Sungai Ciaruteun.
Prasasti Ciaruteun sekarang berada di desa Ciaruteun Hilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Tersimpan dibawah sebuah naungan yang dibuat oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1981. Rupanya akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini ikut  terhanyut beberapa meter ke hilir dan celakanya bagian yang bertulisan posisinya berada di bawah. Tahun 1903 prasasti ini berhasil dipindahkan lagi ke tempatnya semula. Lalu pada tahun 1981 agar tidak terulang lagi terseret banjir Prasati Ciaruten ditempatkan di lokasinya sekarang.
Prasasti Ciaruteun berupa batu gelondong besar berukuran variasi panjang lebar tinggi sekitar 150 cm. Beratnya mencapai 8 ton. Batu Prasasti Ciaruteun bergores aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sansekerta dengan metrum Anustubh yang teridiri dari empat baris; bunyinya:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

4.ARCA ROROJONGGRANG
Menurut legenda, Roro Jonggrang adalah puteri dari Raja Boko yang berkuasa di daerah Prambanan. Kecantikan dan keanggunan Roro Jonggrang membuat seorang pria dari daerah Pengging yang bernama Bandung Bondowoso ingin memperistrinya. Tapi sebenarnya, Roro Jonggrang tidak mencintai Bandung Bondowoso. Sebagai strategi menolak pinangan tersebut, Roro Jonggrang mengeluarkan syarat agar dibuatkan 1000 candi dalam waktu satu malam. Bandung Bondowoso pun menyanggupinya.

Sebelum melaksanakan pekerjaannya, dia bersemedi untuk mendapat kekuatan dan bantuan dari para jin. Menjelang petang, pembangunan seribu candi mulai dilaksanakan, dan menjelang matahari terbit, pembangunan itu hampir selesai. Melihat hal ini, Roro Jonggrang pun cemas, dan berusaha mencegah kerja tersebut. Roro Jonggrang kemudian memanggil semua putri desa untuk membakar jerami dan memukul lesung (alat penumbuk padi tradisional di Jawa), supaya terkesan hari menjelang fajar. Jin-jin yang melihat hari telah menjelang fajar mulai meninggalkan pekerjaannya. Setelah dihitung, ternyata pekerjaan yang tersisa hanyalah sebuah  
5. Makam Godog
Makam godog adalah makam yang terletak di lereng Gunung Karacak, tepatnya di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, Garut. Makam ini dipercaya sebagai makam Prabu Kean Santang, anak Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Informasi mengenai keberadaan makam Godog sebagai makan Kean Santang terdapat dalam beberapa naskah Sunda lama. Di antaranya Babad Godog, Babad Pasundan, dan Wawacan Prabu Kean Santang Aji. Dalam naskah-naskah tersebut diceritakan bahwa Kean Santang adalah putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Setelah memeluk Islam di Mekah,



0 comments:

Post a Comment