Tuesday, 16 June 2015

MAKALAH Metode Qawaid dan Tarjamah

A.      Latar Belakang Masalah
Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga berfungsi sebagai bahasa agama serta bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Dengan demikian, belajar bahasa Arab bukan hanya keharusan tetapi merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bagi umat Islam belajar bahasa Arab adalah hal yang sangat penting, terutama dalam rangka menambah wawasan dan memperdalam agamanya. Sangat ironi memang, jika dewasa ini mayoritas  kaummuslim Indonesia lebihinstendenganbahasaasinglainnyadanmengabaikanbahasa Arab.
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Dalam pembelajaran baik itu modern maupun tradisional seringkali terlupakan tentang masalah metode dalam prosesnya. Padahal metode itu sangat urgen untuk diterapkan. Apalagi dalam bahasa Arab terdapat empat keterampilan yang harus dikuasai.
            Adapun bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi :
1.      Kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al– Istima’)
2.      Kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-kalaa)
3.      Kemampuan membaca (reading competence/mahaarah al-qira’ah)
4.      Kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al - Kitaabah).
Oleh karena itu, untuk memahami keempat keterampilan bahasa tersebut diperlukan beberapa metode. Salah satunya  yaitu metode QowaidWa-Tarjamah
MetodeinimerupakanmetodetertuadalampembelajaranbahasaAsingsehinggadisebutjugametodetradisional.MetodetatabahasadanterjemahinimerupakanhasilkaryapemikiransarjanaJerman (Johann Seidenstucker, Karl Plotz, H.S. Ollendorff, dan Johann Meidinger) yang merupakansalahsatupengkritiknya yang lembut (yaitu W.H.D. Rouse) bertujuanuntukmengetahuisegalasesuatumengenaisesuatutinimbangihwalitusendiri. Metodetatabahasadanterjemahinimendominasipengajaranbahasaasing di Eropadaritahun 1840-an sampai 1940-an, dandalambentuk yang telahdimodifikasi pun tetapterpakaisecaraluas di beberapabagianduniainisampaikini
Cirikhasmetodeiniadalahpenghafalanaturan-aturangramatikaatau rules of grammar dansejumlah kata-kata tertentu. Pengetahuantentangkaidah-kaidahtatabahasalebihpentingdarikemahiranuntuk menggunakannya.2 Dalammetodetatabahasa, kaidah-kaidahtatabahasadipelajarisejalandengankelompok kata.Kata-kata diletakkandandisusunsesuaidengankaidahtatabahasa.Sesudahitu, diberikanlatihan-latihanpenerapankaidah-kaidahtatabahasa.Pengetahuantentangtatabahasalebihpentingdaripadapenerapankaidahtatabahasatersebut.Tidakadapengajaran oral/lisandantidakadapengajaranucapansecarakhusus.Salah satukemajuan yang dituntutolehmetodetatabahasaialahketertiban mental.Metodeinimudahditerapkan.Metodeinitidakmenuntutseorang guru yang fasihberbahasaujaran.
Metodeterjemahanberisipraktikpenerjemahannaskah-naskah, dari yang mudahsampai yang sulit.Salah satuvariasidarimetodeterjemahanialahmetodeterjemahanharfiah.Sebagaimanametodetatabahasa, metodeterjemahandapatdiajarkandalamkelas yang besarataukecil.Iadapatdiajarkanoleh orang yang kurangmenguasaibahasadaniadapat pula diajaroleh guru yang tidakdibekalidenganpelbagaiteknikmengajarbahasa. Metodeterjemahmurahdangampangdilaksanakandandikelola.Jumlah jam pelajarantidakditentukan: bolehbanyakbolehsedikit, tergantungpadatujuandan pengelolaan.3
             Asumsi yang mendasarimetodekaidahdanterjemahadalahsuatulogikasemesta (al-mathiq al-‘alami/ universal logic) yang menyatakanbahwasemuabahasa di duniadasarnyasama, dantatabahasaadalahcabangdarilogika (Nababan, 1993: 11). Untukmelihattitikkesamaanitu, perludilakukankajiantatabahasaasing yang dipelajari, danuntukmelihatpokokpikiran yang terkandungolehtulisanbahasaasing yang dipelajari, perludiadakankegiatantransformasi (terjemahan) kosa kata dankalimatdalambahasaasing yang dipelajarikedalamkosa kata/kalimatdalambahasapelajarsehari-hari. Jadiintikegiatanbelajarbahasaasingadalahmenganalisatatabahasa, menuliskalimat, danmenghafalkankosakatasebagaidasartransformasinyakedalambahasa yang digunakansehari-hari.
               Metodekaidahdanterjemahmelihatbahasasecarapreskriptif, dengandemikiankebenaranbahasaberpedomanpadapetunjuktertulis, yaituaturan-aturangramatikal yang tertulisolehahlibahasa, bahkanmenurutukuran guru.Ba’labaki (1990: 216) menjelaskanbahwadasarpokokmetodeiniadalahhafalankaidah, analisagramatikaterhadapwacana, laluterjemahnyakedalambahasa yang digunakansebagaipengantarpelajaran.Sedangkanperhatianterhadapkemampuanberbicarasangatkecil.Iniberartibahwatitiktekanmetodeinibukanmelatihparapelajar agar pandaiberkomunikasisecaraaktif, melainkanmamahamibahasasecaralogis yang didasarkankepadaanalisacermatterhadapaspekkaidahtatabahasa.Tujuanmetodeinimenurut Al-Naqah (2010) adalah agar parapelajarpandaidalammenghafaldanmemahamitatabahasa, mengungkapkan ide-ide denganmenerjemahkanbahasaibuataubahasakeduakedalambahasaasing yang dipelajari, danmembekalimereka agar mampumemahamiteksbahasaasingdenganmenerjemahkannyakedalambahasasehari-hariatausebaliknya.
               Berdasarkanpernyataantersebutadaduaaspekpentingdalammetodekaidahdanterjemah; pertama, kemampuanmenguasaikaidahtatabahasa; dan kedua, kemampuanmenerjemahkan.Duakemampuaniniadalah modal dasaruntukmentransfer ide ataupikirankedalamtulisandalambahasaasing (mengarang), dan modal dasaruntukmemahami ide ataupikiran yang dikandungtulisandalambahasaasing yang dipelajari (membacapemahaman). Dari konsepdasartersebutdapatdikemukakanbeberapakarakteristikmetodekaidahdanterjemahyaitu;
a.       Ada kegiatandisiplin mental danpengembanganintelektualdalambelajarbahasadenganbanyakpenghafalan, danmemahamifakta-fakta.
b.      Ada penekananpadakegiatanmembaca, mengarang, danterjemah. Sedangkankegiatanmenyimakdanberbicarakurangdiperhatikan.
c.       Seleksikosakatakhususnyaberdasarkanteks-teksbacaan yang dipakai.
d.      Unit yang mendasarialahkalimat, makaperhatianlebihbanyakdicurahkankepadakalimat, sebabkebanyakanwaktupelajardihabiskanolehaktivitasterjemahankalimat-kalimatterpisah.
e.       Bahasapelajarsehari-haridigunakansebagaibahasa pengantar.4

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian Metode Qawaid dan Tarjamah
2.      Latar Belakang Metode Qawaid dan Tarjamah
3.      Konsep Dasar Metode Qawaid dan Tarjamah
4.      Kelemahan dan Kelebihan Metode Qawaid dan Tarjamah
5.      Aplikasi Metode Qawaid dan Tarjamah Dalam Proses Pembelajaran

C.    Tujuan danManfaat
1.  Tujuan
Tujuan metode qowaid dan terjemah ini bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.Pada dasarnya metode ini mempunyai dua bagian utama, yaitu telaah sastra bahasa kedua dan pengembangan keterampilan menganalisis melalui telaah tata bahasa.Tujuan kedua ini, yang dimotivasi oleh paara pakar tata bahasa Cartesian yang berkeyakinan bahwa logika universal mendasari semua bahasa, sebagian besar telah menghilang.
Menurut para guru yang menggunakan metode ini, tujuan pokok pengajaran suatu bahsa asing adalah untuk mengembangkan kemampuan membaca literatur yang ditulis dalam bahasa sasaran. Untuk mampu melakukanitu, para siswa perlu mempelajari aturan tata bahasa dan kosakata dari bahasa sasaran
Metode ini sangat menekankan pembelajaran pada kosakata dan tata bahasa.Keterampilan membaca dan menulis adalah keterampilan yang diutamakan dalam pembelajaran. Hanya sedikit perhatian yang  diberikan kepada keterampilan berbicara dan mendengarkan. Dalam metode ini bahasa tulisan lebih diutamakan daripada bahasa lisan.
Adapun tujuan dari metode ini, yakni:
1.      Menanamkan pemahaman tentang tata bahasa.
2.      Pelatihan siswa untuk menulis dalam bahasa yang tepat.
3.      Menyediakan siswa dengan kosa kata yang luas.
4.      Melatih siswa mendapatkan makna dengan terjemahan.
5.      Agar para pelajar pandai dalam menghafal dan memahami tata bahasa.
6.       lebih mampu membaca naskah berbahasa Arab atau karya sastra Arab.
7.      memiliki nilai displin dan perkembangan intelektual. Pembelajaran dalam metode ini didominasi dengan kegiatan membaca dan menulis.Adapun kosakata yang dipelajari adalah kosakata dari tes bacaan, di mana kalimat diasumsikan sebagai unit yang terkecil dalam bahasa, ketepatan terjemahan diutamakan, dan bahasa Ibu digunakan dalam prose pembelajaran.





D. KerangkaPemikiran
Asumsi  yang  mendasari metode gramatika dan tarjamah adalah suatu logika semesta (al-mathiq al-alami/ universal logic) yang menyatakan bahwa semua bahasa didunia dasarnya sama, dan tata bahasa adalah cabang dari logika. Untuk melihat titik kesamaan  itu, perlu dilakukan kajian tata bahasa asing yang dipelajari, dan untuk melihat pokok pikiran yang terkandung oleh tulisan bahasa asing yang dipelajari, perlu diadakan kegiatan transformasi (terjemah ) kosa kata dan kalimat dalam bahasa pelajar sehari-hari. Jadi inti kegiatan belajar bahasa asing adalah menganalisa tata bahasa, menulis kalimat, dan menghapalkan kosakata sebagai dasar transformasinya kedalam bahasa yang digunakan sehari-hari.
Ada dua pendekatan teori yang mendasari pengajaran bahasa, yaitu teori tata bahasa tradisional dan structural. Keduanya memiliki pandangan yang saling berserbangan dalam hal tata bahasa. Nababan mengatakan bahwa teori tradisional menekan kan adanya suatu tata bahasa yang semesta (al - qawaid al-alamiyah/ universal grammer), sedangkan teori structural memandang bahwa struktur bahasa-bahasa di dunia tidak sama. Teori tradisional melihat bahasa secara preskiftif, artinya bahasa yang baik dan benar adalah menurut para ahli bahasa, bukan yang digunakan oleh penutur asli yang dilapangan. Berbeda dengan teori tradisional, teori structural melihat bahasa secara deskriptif, artinya bahasa yang baik dan benar adalah yang digunakan oleh penutur asli lapangan.
Metode gramatika dan terjamah melihat bahasa secara preskriftif, dengan demikian kebenaran bahasa berpedoman pada petunjuk tertulis, yaitu aturan-aturan gramatikal yang ditulis oleh ahli bahasa, bahkan menurut ukuran guru.
Ba’labaka menjelaskan bahwa dasar pokok metode ini adalah hapalan kaidah, analisa gramatika terhadap wacana, lalu terjemahnya kedalam bahasa yang digunakan sebagai pengantar pelajaran. Sedangkan perhatian terhadap kemampuan berbicara sangat kecil. Ini berarti bahwa titik tekan metode ini bukan melatih para pelajar akan pandai berkomunikasi secara aktif, melainkan memahami bahasa secara logis yang disandarkan kepada analisa, cermat terhadap aspek kaidah tata bahasa. Tujuan metode ini menurut Al-Naqah adalah agar para pelajar pandai dalam menghapal dan memahami tata bahasa, mengungkapkan ide-ide dengan menterjamahkan bahasa ibu atau bahasa kedua ke dalam bahasa asing yang dipelajari, dan membekali mereka agar mampu memahami teks bahasa asing dengan menterjamahkannya kedalam bahasa sehari-hari atau sebalinya.
Berdasarkan pernyataan tersebut ada dua aspek penting dalam metode gramatika dan tarjamah :
1.         Kemampuan menguasai kaidah tata bahasa.
2.         Kemampuan menerjamahkan.
Dua kemampuan ini adalah modal dasar untuk menstranfer ide atau pikiran kedalam tulisan dalam bahasa asing (mengarang) dan modal dasar untuk memahami idea tau pikiran yang dikandung tulisan dalam bahasa asing yang dipelajari (membaca pemahaman).

Dari konsep dasar tersebut dapat di kemukakan beberapa karakteristik metode gramatika dan terjemah yaitu :
a.         Ada kegiatan disiplin mental dan pengembangan intelektual dalam belajar bahasa dengan banyak penghapalan dan memahami fakta-fakta.
b.         Ada penekanan pada kegiatan membaca, mengarang dan terjemah. Sedangkan kegiatan menyimak dan berbicara kurang diperhatikan.
c.         Seleksi kosakata khususnya berdasarkan teks-teks bacaan yang dipakai. kosakata ini diajarkan melalui daftar-daftar dwibahasa studi kampus dan penghapalan.
d.        Unit yang mendasar ialah kalimat, anak perhatian lebih banyak dicurahkan kepada kalimat, sebab kebanyakan waktu para pelajar dihabiskan oleh aktivitas terjamahan kalimat-kalimat terpisah.
e.         Tata bahasa diajarkan secara deduktif, yaitu dengan penyajian kaidah-kaidah bahasa seperti dalam bahasa latin yang dianggap semesta (al-alamiyyah/ iniversal). Ini kemudian dilatih lewat terjemahan-terjemahan.
f.          Bahasa pelajar sehari-hari (bahasa ibu atau bahasa kedua) digunakan sebagai bagan pengantar.

Kelemahan dalam  metode Qawaid dan Terjemah
1.     Pengajarannya hanya dapat menyusun/ membimbing  siswa terampil berbahasa  pasif  dan  tidak  aktif
2.     Metode ini banyak  mengajarkan  tentang  bahasanya  bukan kemahiran berbahasa
3.     Terjemahan  harfiyah  sering  mengacaukan  makna  kalimat dalam  konteks luas.
4.     Pelajar  hanya  mempelajarai  satu  ragam  bahasa.
5.     Para  pelajar  menghafalkan  kaidah  bahasa  yang  disajikan  secara perskriftif.
6.     Anilisis tatabahasa munkin baik bagi mereka yang merancang, tapi tidak menutup kemungkinan dapat membingungkan siswa karena rumitnya anilisis itu.
7.     Metode ini banyak mengabaikan dalam kemahiran kalam.
8.     Banyak menggunakan bahasa ibu.
9.     Lebih banyak mementingkan pengajaran ilmu tentang bahasa arab, bukan bahasa sendiri.

Kelebihan dalam metode Qawaid dan Tarjamah
1.      Pelajar mengusai, dalam arti hafal di luar kepala kaedah bahasa target.
2.      Pelajar memahami isi detail bahan bacaan yang dipelajarinya dan mampu menerjemahkannya.
3.      Para pelajar hafal kosa kata dalam jumlah yang relatif banyak dalam setiap pertemuan.
4.      Metode ini memperkuat kemampuan pelajar dalam mengingat dan menghafal.
5.      Siswa mahir dalam membaca, menulis, dan menerjemah.
6.      Metode ini tidak menuntut siswa untuk aktif berbahasa arab.
7.      Metode ini mudah dilaksanakan.
8.      Dapat meningkatkan wawasan siswa.


5.      Aplikasi Metode Qawaid dan Tarjamah
Untuk mengaplikasikan metode gramatika dan tarjamah dalam pengajaran bahasa asing, dalam hal ini Bahasa Arab, kita perlu melihat konsepdasar metode ini sebagaimana dijelaskan di atas agar tidak keluar dari karakteristik metode ini. Contoh penerapan metode yang mungkin dilakukan oleh guru bahasa Arab adalah sebagai berikut :
1.      Guru memulai mendengarkan sederetan kalimat yang panjang yang telah dibebankan pada peserta didik untuk menghafalkan pada kesempatan sebelumnya dan telah dijelaskan juga tentang makna-makna dari kalimat itu.
2.      Guru memberikan kosa kata baru dan menjelaskan maknanya kedalam bahasa ibu sebagapi persiapan materi pengajaran.
3.      Selanjutnya guru meminta salah satu peserta didik untuk membaca buku bacaan dengan suara kuat, teruatama menyangkut hal-hal yang biasanya peserta didik mengalami kesalahan dan kesulitan, dan tugas guru kemudian membenarkan.
4.      Kegiatan membaca teks ini diteruskan hingga seluruh peserta didik memndapat giliran.
5.      Setelah itu, siswa yang dianggap paling bisa untuk menterjemahkan, kemudian selanjutnya diarahkan pada pemahaman struktur gramatikannya.


E. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan teori pembelajaran dan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian sebelumnya, peneliti dapat menyusun hipotesis tindakan sebagai berikut:
·         Aktivitas belajar siswa cendrung meningkat dengan penerapan model pembelajaran Role Playing pada mata diklat Kewirausahaan
·          Penerapan model pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat Kewirausahaan dengan

Contoh Hipotesis Tindakan:
Model NHT Untuk Mata Pelajaran Ekonomi di SMA:
Berdasarkan teori pembelajaran dan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian sebelumnya, peneliti dapat menyusun hipotesis tindakan sebagai berikut:
·         Hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi meningkat dengan penerapan model pembelajaranNumbered Head Together (NHT).
·         Motivasi belajar siswa pada pelajaran ekonomi cendrung meningkat dengan penerapan model pembelajaranNumbered Head Together (NHT).
Contoh Hipotesis Tindakan:
Model  LC Untuk Mata Pelajaran Akuntansi di SMK:
Berdasarkan teori pembelajaran dan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian sebelumnya, peneliti dapat menyusun hipotesis tindakan sebagai berikut:
·         Model penerapan pembelajaran Learning Cycle (LC) dapat meningkatan minat belajar siswa pada pelajaran Akuntansi.
·         Model pembejaran Learning Cycle (LC) efektif untuk mencapai ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Akuntansi.













Metode ini merupakan  gabungan dari  metode Gramatika dan metode Terjemah. Dalam  metode ini adalah mempelajari bahasa asing  yang  menekankan qawaid atau kaidah-kaidah bahasa untuk mencapai  keterampilan  membaca, menulis, dan  menterjaemah. Metode dapat dibilang edial dari  pada salah  satu  atau  keduanya dari metode ini (gramatika dan terjemah), terlebih dahulu diajarkan dan kemudian pelajaran menerjemah dan pelaksanaannya pun sejalan.
Asumsi  yang  mendasari metode gramatika dan tarjamah adalah suatu logika semesta (al-mathiq al-alami/ universal logic) yang menyatakan bahwa semua bahasa didunia dasarnya sama, dan tata bahasa adalah cabang dari logika. Untuk melihat titik kesamaan  itu, perlu dilakukan kajian tata bahasa asing yang dipelajari, dan untuk melihat pokok pikiran yang terkandung oleh tulisan bahasa asing yang dipelajari.

Kelemahan dalam  metode Qawaid dan Terjemah
a.         Pengajarannya hanya dapat menyusun/ membimbing  siswa terampil  berbahasa pasif  dan  tidak  aktif
b.        Metode ini banyak  mengajarkan  tentang  bahasanya  bukan kemahiran berbahasa
c.         Terjemahan  harfiyah  sering  mengacaukan  makna  kalimat dalam  konteks  luas.
Kelebihan dalam metode Qawaid dan Terjemah
a.   Pelajar mengusai, dalam arti hafal di luar kepala kaedah bahasa target.
b.        Pelajar memahami isi detail bahan bacaan yang dipelajarinya dan mampu menerjemahkannya. setiap pertemuan.
c.         Para pelajar hafal kosa kata dalam jumlah yang relatif banyak dalam
DAFTAR PUSTAKA


Abdul Aziz bin Ibrahim el-Hushaili, Metode Pengajaran  Bahasa Arab

Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,  Remaja Rosdakarya, Bandung : 2011

 Ahmad Izzan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,  Humaniora, Bandung  : 2004.

Anisatul Mufarakah, Strategi Belajar Mengajar,  teras, Yogyakarta : 2009.

Prof. Dr. Aziz Fachrurrazi, M.A dan Ertha Mahyudin, Lc,. S.S., M.Pd.I, Pembelajaran Bahasa Asing Metode Tradisional dan Kontemporer, Bania Publishing, Jakarta:  2010.





0 comments:

Post a Comment