Tuesday, 16 June 2015

METODE Thariqatu Al-Qawaid Wa Al-Tarjamah

A.                Thariqatu Al-Qawaid Wa Al-Tarjamah (Metode Kaidah Dan Terjemah)
Metode ini merupakan metode tertua dalam pembelajaran bahasa Asing sehingga disebut juga metode tradisional. Metode tata bahasa dan terjemah ini merupakan hasil karya pemikiran sarjana Jerman (Johann Seidenstucker, Karl Plotz, H.S. Ollendorff, dan Johann Meidinger) yang merupakan salah satu pengkritiknya yang lembut (yaitu W.H.D. Rouse) bertujuan untuk mengetahui segala sesuatu mengenai sesuatu tinimbang ihwal itu sendiri. Metode tata bahasa dan terjemah ini mendominasi pengajaran bahasa asing di Eropa dari tahun 1840-an sampai 1940-an, dan dalam bentuk yang telah dimodifikasi pun tetap terpakai secara luas di beberapa bagian dunia ini sampai kini
Ciri khas metode ini adalah penghafalan aturan-aturan gramatika atau rules of grammar dan sejumlah kata-kata tertentu. Pengetahuan tentang kaidah-kaidah tata bahasa lebih penting dari kemahiran untuk menggunakannya.2 Dalam metode tata bahasa, kaidah-kaidah tata bahasa dipelajari sejalan dengan kelompok kata. Kata-kata diletakkan dan disusun sesuai dengan kaidah tata bahasa. Sesudah itu, diberikan latihan-latihan penerapan kaidah-kaidah tata bahasa. Pengetahuan tentang tata bahasa lebih penting daripada penerapan kaidah tata bahasa tersebut. Tidak ada pengajaran oral/lisan dan tidak ada pengajaran ucapan secara khusus. Salah satu kemajuan yang dituntut oleh metode tata bahasa ialah ketertiban mental. Metode ini mudah diterapkan. Metode ini tidak menuntut seorang guru yyang fasih berbahasa ujaran.
Metode terjemahan berisi praktik penerjemahan naskah-naskah, dari yang mudah sampai yang sulit. Salah satu variasi dari metode terjemahan ialah metode terjemahan harfiah. Sebagaimana metode tata bahasa, metode terjemahan dapat diajarkan dalam kelas yang besar atau kecil. Ia dapat diajarkan oleh orang yang kurang menguasai bahasa dan ia dapat pula diajar oleh guru yang tidak dibekali dengan pelbagai teknik mengajar bahasa. Metode terjemah murah dan gampang dilaksanakan dan dikelola. Jumlah jam pelajaran tidak ditentukan: boleh banyak boleh sedikit, tergantung pada tujuan dan pengelolaan.3
             Asumsi yang mendasari metode kaidah dan terjemah adalah suatu logika semesta (al-mathiq al-‘alami/ universal logic) yang menyatakan bahwa semua bahasa di dunia dasarnya sama, dan tata bahasa adalah cabang dari logika (Nababan, 1993: 11). Untuk melihat titik kesamaan itu, perlu dilakukan kajian tata bahasa asing yang dipelajari, dan untuk melihat pokok pikiran yang terkandung oleh tulisan bahasa asing yang dipelajari, perlu diadakan kegiatan transformasi (terjemahan) kosa kata dan kalimat dalam bahasa asing yang dipelajari ke dalam kosa kata/kalimat dalam bahasa pelajar sehari-hari. Jadi inti kegiatan belajar bahasa asing adalah menganalisa tata bahasa, menulis kalimat, dan menghafalkan kosakata sebagai dasar transformasinya ke dalam bahasa yang digunakan sehari-hari.
               Metode kaidah dan terjemah melihat bahasa secara preskriptif, dengan demikian kebenaran bahasa berpedoman pada petunjuk tertulis, yaitu aturan-aturan gramatikal yang tertulis oleh ahli bahasa, bahkan menurut ukuran guru. Ba’labaki (1990: 216) menjelaskan bahwa dasar pokok metode ini adalah hafalan kaidah, analisa gramatika terhadap wacana, lalu terjemahnya ke dalam bahasa yang digunakan sebagai pengantar pelajaran. Sedangkan perhatian terhadap kemampuan berbicara sangat kecil. Ini berarti bahwa titik tekan metode ini bukan melatih para pelajar agar pandai berkomunikasi secara aktif, melainkan mamahami bahasa secara logis yang didasarkan kepada analisa cermat terhadap aspek kaidah tata bahasa. Tujuan metode ini menurut Al-Naqah (2010) adalah agar para pelajar pandai dalam menghafal dan memahami tata bahasa, mengungkapkan ide-ide dengan menerjemahkan bahasa ibu atau bahasa kedua ke dalam bahasa asing yang dipelajari, dan membekali mereka agar mampu memahami teks bahasa asing dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari atau sebaliknya.
               Berdasarkan pernyataan tersebut ada dua aspek penting dalam metode kaidah dan terjemah; pertama, kemampuan menguasai kaidah tata bahasa; dan kedua, kemampuan menerjemahkan. Dua kemampuan ini adalah modal dasar untuk mentransfer ide atau pikiran ke dalam tulisan dalam bahasa asing (mengarang), dan modal dasar untuk memahami ide atau pikiran yang dikandung tulisan dalam bahasa asing yang dipelajari (membaca pemahaman). Dari konsep dasar tersebut dapat dikemukan beberapa karakteristik metode kaidah dan terjemah yaitu;
a.                   Ada kegiatan disiplin mental dan pengembangan intelektual dalam belajar bahasa dengan banyak penghafalan, dan memahami fakta-fakta.
b.                  Ada penekanan pada kegiatan membaca, mengarang, dan terjemah. Sedangkan kegiatan menyimak dan berbicara kurang diperhatikan.
c.                   Seleksi kosakata khususnya berdasarkan teks-teks bacaan yang dipakai.
d.                  Unit yang mendasar ialah kalimat, maka perhatian lebih banyak dicurahkan kepada kalimat, sebab kebanyakan waktu pelajar dihabiskan oleh aktivitas terjemahan kalimat-kalimat terpisah.
e.                   Bahasa pelajar sehari-hari digunakan sebagai bahasa pengantar.4
B.                 Kelebihan Dan Kekurangan Metode Kaidah Dan Terjemah
Adapun kelebihan meteode ini adalah sebagai berikut;
1.                  Para pelajar bisa hafal kosakata dalam jumlah yang relatif banyak dalam setiap pertemuan.
2.                  Dapat di gunakan di kelas-kelas dengan jumlah yang banyak.
3.                  Cocok bagi semua tingkat kemampuan siswa 9,ustawa mubtadi’, mutawasith, mutaqadim).
4.                  Para pelajar mahir menerjemahkan dari bahasa asing ke dalam bahasa sehari-hari atau sebaliknya.
5.                  Para pelajar bisa hafal kaidah-kaidah bahasa asing yang disampaikan dalam bahasa sehari-hari karena senantiasa menggunakan terjemahan dalam bahasa sehari-hari.5
Kekurangannya:
1.                  Analisis tata bahasa mungkin baik bagi mereka yang merancangnya, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat membingungkan para pelajar karena rumitnya analisis itu.
2.                  Para siswa hanya kuat dalam kemampuan membaca dan penguasaan tata bahasa, tetapi lemah dalam kemampuan mendengar, berbicara, dan menulis.
3.                  Dibutuhkan guru yang terlatih dalam penerjemahan.
4.                  Metode ini lebih mengajarkan tentang bahsa dari pada mengajarkan berbahasa.
5.                  Terjemahan kata demi kata, kalimat demi kalimat sering mengacaukan makna kalimatdalam konteks yang luas.
6.                  Para pelajar mendapat pelajaran dalam satu ragam tertentu, sehingga tidak merasa tidak atau kurang mengenal ragam-ragam lainnya yang lebih luas. Maka tingkat kebermaknaannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi minim.6

2 Muljanto Sumardi.Pengajaran Bahasa Asing.(Jakarta:Bulan Bintang.1974). hal.35

3 Jos Daniel Parera.Linguistik Edukasional.(Jakarta:Erlangga.1997).hal.63

4 Acep Hermawan.Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.(Bandung:Rosda.2011). hal 171

5 Ibid. hal.174-175

6 Acep Hermawan.metodologi pembelajaran bahasa arab.(Bandung:Rosda.2011). hal.175


0 comments:

Post a Comment