Tuesday, 16 June 2015

KARYA TULIS PENGARUH SODA API TERHADAP KUALITAS HASIL UKIRAN KAYU JEPARA

PENGARUH SODA API TERHADAP KUALITAS
HASIL UKIRAN KAYU JEPARA


KARYA TULIS


DiajukanUntukMemenuhi Salah SatuTugasAkhirSekolah


Oleh
CUCU ROSMAWATI
9970726519
XI IPA 1


Description: SMU+DRM.jpg



PROGRAM ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI DARMARAJA
                                                          2014/2015                     

LEMBAR PENGESAHAN

PENGARUH SODAAPI TERHADAP KUALITAS
HASIL UKIRAN KAYU JEPARA


Disetujui dan Disahkan           :
Hari                                         :
Tanggal                                   :


            Pembimbing                                                                WaliKelas





Jajang Kurniawan,M.Pd                                 Jajang Kurniawan. M.Pd
NIP . 197403232009021001                          NIP . 197403232009021001




Mengetahui
KepalaSekolah


NIP. 195907101986031012
Drs.H.WowoKartiwa MM



LEMBAR PENYERAHAN

Yang bertandatangan di bawahini :
            Nama          : CucuRosmawati
            NISN         : 9970726519
            Kelas          : XI IPA 1

            Dengan ini, penulis menyerahkan laporan Karya Tulis yang berjudul “PENGARUH SODA API TERHADAP KUALITAS HASIL UKIRAN KAYU JEPARA “ yang telah di laksanakan pada hari Kamis 10  Desember 2014.
            Demikian pernyataan ini saya sampaikan atas perhatian Bapak/Ibu Guru saya ucapkan terimakasih.




Darmaraja,    Februari 2015




            Penerima                                                                     Penulis




      Jajang Kurniawan                                                   Cucu Rosmawati
     NIP . 197403232009021001                                   NISN . 9970726519







LEMBAR PERSEMBAHAN

            Karyatulisinikupersembahkanuntuk :
1.      Kedua orang tuatercinta, yang telah memberikan dukungan secara moril dan materi selama ini kepada penulis.
2.      Saudara-saudara tercinta, terimakasih atas kasih sayang yang tercurah selama ini kepada penulis.
3.      Teman-teman atas kebersamaan dan solidaritas yang selamaini terjalin.







MOTTO :

Allah Menguji Hambanya dengan musibah dan nikmat untuk melihat siapa  yang Bersyukurdansiapa Yang Kufur, Siapa Pula Yang Sabardansiapa Yang Berputusharap.


Bersabarlah…….
Ujian, Tanda Allah Rindumendengarrintihandoamu.




 KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia dan rahmat-nya, sehingga penulis telah menyelesaikan Karya Tulis ini yang berjudul “ Pengaruh Soda Api Terhadap Kualitas Hasil Ukiran Kayu Jepara “.
            Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis inimasih banyak kesalahan dan kekurangan yang di akibatkan kurangnya daya fikir dan pengetahuan yang penulis miliki, akan tetapi pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan.
            Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1.      Allah SWT yang telah memberikan kemampuan kepada saya;
2.      Orang tua saya;
3.      Bapak Drs.H.Wowo Kartiwa MM selaku kepala sekolah SMAN Darmaraja;
4.      Bapak Jajang Kurniawan M.Pd selaku wali kelas dan pembimbing dalam pembuatan karya tulis ini;
5.      Bapak Jajang Kuswandi Spd selaku Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia;
6.      Teman-teman yang telah membantu member duklungan kepada saya
Akhirnya penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah atas terselesaikannya kaya tulis ini, walaupun masih jauh dari kesempurnaan. Semoga karya tulis ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca karya tulis ini.




Darmaraja,   Februari 2015
           
                                                                                                   Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR SAMPUL
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PENYERAHAN
LEMBAR PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR.................................................................................      i
DAFTAR ISI................................................................................................      ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah..............................................................      1
B. Rumusan Masalah........................................................................      2
C. Batasan Masalah..........................................................................      2
D. Tujuan Penelitian.........................................................................      2
E. Manfaat Penelitian.......................................................................      2
F. Waktu dan Tempat Penelitian......................................................      3
G. Metode dan Teknik Penelitian.....................................................      3
H. Sistematika Penulisan..................................................................      4
BAB II KAJIAN TEORITIS
A. Pengertian Pengaruh....................................................................      5
B. Pengertian Soda Api....................................................................      5
C. Pengertian Kualitas......................................................................      6
D. Pengertian Hasil...........................................................................      7
E. Pengertian Ukiran.........................................................................      7
F. Pengertian Kayu...........................................................................      8
G. Pengertian Jepara.........................................................................      12
BAB III PEMBAHASAN
Perbedaan Kualitas Hasil Ukiran Kayu Jepara yang Menggunakan Soda Api Dengan Kualitas Hasil Ukiran  Kayu Yang Tidak Menggunakan Soda Api ......................................                17


BAB IV PENUTUP
A. Simpulan........................................................................................      18
B. Rekomendasi.................................................................................      18

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
AUTOBIOGRAFI




 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam maupun budaya yang melimpah.kekayaan itu sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan suatu Negara. Salah satunya adalah Jepara. Jepara merupakan kota yang memanfaatkan kekayaan alam dengan merubah sebatang pohon menjadi sebuah objek seni yang ternilai yang dimana hasilnya dapat di pandang dan di kagumi bukan hanya di dalam negeri saja. Oleh karena itu kota Jepara sangatlah berkembang pesat karena kepandaian dan keuletan masyarakatnya dalam menghasilkan ukiran yang sangat berkualitas.
            Sejarah mengapa masyarakat Jepara memiliki keahlian dalam mengukir yaitu, konon pada zaman dahulu ada seseorang yang pandai mengukir yang bernama Ki Sungging.Dia di perintahkan oleh raja untuk membuat patung tutbuh permaisurinya.Ki Sungging pun menyanggupinya dan dia berhasil membuatnya dengan sangat bagus, meskipun ada sedikit kesalahan yaitu pada saat Ki Sungging mengecat bagian rambut itu ada setetes cat yang jatuh sehingga terlihat seperti tahi lalat pada bagian pahanya.Tanpa di sadari Ki Sungging pun menyerahkan patung itu kepada raja.Awalnya raja sangat kagum dengan hasil pahatannya, namun setelah raja melihat ada tahi lalat pada bagian paha, raja pun curiga bahwa Ki Sungging pernah melihat permaisuri telanjang.Kemudian raja menghukum Ki Sungging dengan menerbangkannya bersama layang-layang raksasa serta dengan lukis dan pahatnya.Karena Ki Sungging terombang-ambing, peralatannya pun berjatuhan dari udara, dan kono pahat Ki Sungging ada yang jatuh di Jepara, sehingga Jepara mendapat ilmu dari seniman serba bias itu.
            Oleh karena itu, Jepara di anggap sebagai salah satu kawasan industri penghasil mebel ukir terbesar di Indonesia, Karena meskipun di daerah dan tempat lain terdapat juga kawasan industry mebel serupa, namun perkembangannya tidak semaju Jepara. Ukiran jepara memang sangat berkualitas dan terkenal, selain kepandaiannya dalam mengukir para pengrajin Jepara juga pandai dalam menggunakan bahan-bahan untuk menghasilkan ukiran yang lebih berkualitas seperti bahan kimia Soda Api (NaOH) yang di gunakan dalam proses finishingnya.
            Dari penjelasan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang Soda Api pada ukiran kayu Jepara. Maka dari itu penulis mengambil judul “ Pengaruh Soda Api Terhadap Kualitas Hasil Ukiran Kayu Jepara “.
B.  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas penulis menarik rumusan masalah sebagaiberikut :
“ Adakah perbedaan kualitas hasil ukiran kayu Jepara yang menggunakan soda api dengan kualitas hasil ukiran kayu Jepara yang tidak menggunakan soda api? ”
C. BATASAN MASALAH
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis membatasi masalah pengaruh soda api terhadap kualitas hasil ukiran kayu jepara serta perbedaan antara kualitas hasil ukiran kayu jepara yang menggunakan soda api dengan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang tidak menggunakan soda api.

D. TUJUAN PENELITIAN
Dalam penulisan karya tulis ini penulis mempunyai beberapa tujuan antara lain :
1.      Untuk mengetahui perbedaan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang menggunakan soda api dengan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang tidak menggunakan soda api.
2.      Mendapatkan informasi tentang ukiran kayu jepara.
3.      Menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman sehingga berguna bagi masa depan.

E. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang di peroleh dari hasil penelusuran, dan observasi dari karya tulis ini adalah sebagai berikut :
1.      Menambah pengalaman dan mengetahui lokasi ukiran kayu jepara.
2.      Sebagai salah satu sumber pembelajaran sekolah.
3.      Menambah wawasan bagi penulis dan pembaca.
F.  WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Hari                 : kamis
Tanggal           : 10 Desember 2014
Pukul               : 08.00 s/d selesai
Tempat            : Jepara
Kegiatan penelitian ke Jepara-Yogyakarta ini diikuti oleh seluruh siswa kelas XI IPA dan kelas XI IPS SMAN Darmaraja yang dibagi ke dalam Lima Bus pariwisata dengan jumlah peserta sebanyak 230 orang di tambah panitia dan pembimbing sebanyak 40 orang.
G. METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
1. Metode Penelitian
a. Metode Deskripsi
Metode Deskripsi adalah metode dalam bentuk meneliti suatu objek, suatu set kondisi, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskripsi ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang di selidiki.

b.Metode Literatur
Metode literatur adalah metode yang di gunakan dengan cara mencari data dari sumber-sumber tertulis seperti makalah karya tulis, media internet, dan buku. Tujuan metode literatur adalah untuk mendapatkan data tentang penelitian yang di lakukan.
2. Teknik Penelitian
a.Teknik Wawancara
            Teknik wawancara adalah teknik pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Teknik wawancara adalah teknik atau cara yang di perlukan seseorang untuk suatu tujuan tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan dari seseorang tertentu dengan bercakap-cakap, berhadapan dengan muka orang itu.
b.Teknik Studi Pustaka
Teknik studi pustaka adalah teknik yang di lakukan dengan cara mencari bahan-bahan penelitian dari berbagai sumber yang terdapat pembahasan tentang masalah yang sedang di teliti.

H. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan karya tulis ini terdiri dari empat bab :
Bab 1 terdiri dari pendahuluan yang memuat : latar belakang masalah, rumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, waktu dan tempat penelitian, metode dan teknik penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II kajian teoritis yang memuat define operasional yang terdiri dari : pengertian pengaruh, pengertian soda api, pengertian kualitas, pengertian hasil, pengertian ukiran, pengertian kayu, pengertian jepara.
Bab III Pembahasan yang memuat : Perbedaan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang menggunakan soda api dengan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang tidak menggunakan soda api.
Bab IV Penutup yang terdiri dari Simpulan dan Rekomendasi.
Untuk melengkapi karya tulis ini di tampilkan daftar pustaka, lampiran-lampiran, dan autobiografi.







 
BAB II
KAJIAN TEORITIS

            Dalam bab ini, penulis akan menjelaskan sedikit tentang definisi operasional dari judul yang penulis ambil. Tujuannya yaitu untuk mempermudah penulis atau pembaca dalam menjelaskan ataupun mengamati pembahasan yang di bahas. Berikut adalah definisi operasional dari judul “ Pengaruh Soda Api Terhadap Kualitas Hasil Ukiran Kayu Jepara “.
A. Pengertian Pengaruh
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Berikut adalah pengertian atau definisi pengaruh menurut para ahli :
1.      Menurut Surakmad, pengaruh adalah kekuatan yang muncul dari suatu benda atau orang dan juga gejala alam yang dapat memberikan perubahan terhadap apa-apa yang di sekelilingnya.
2.      Menurut John Militer, pengaruh merupakan komoditi berharga dalam dunia politik Indonesia.
3.      Menurut Bertram Johannes Otto Scrieke, pengaruh merupakan bentuk dari kekuasaan yang tidak dapat di ukur kepastiannya.
4.      Menurut Wiryanto, pengaruh merupakan tokoh formal maupun non-formal di dalam masyarakat, mempunyai cirri lebih cosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksibel di banding pihak yang di pengaruhi.
Jadi, dari pendapat-pendapat tersebut dapat di simpilkan bahwa pengaruh merupakan suaru daya atau kekuatan yang timbul di alam sehingga mempengaruhi apa-apa yang ada di sekitarnya.

B. Pengertian Soda Api

5
 
Soda api dalam ilmu kimia di sebut Natrium Hidroksida (NaOH) merupakan sejenis basa logam kaustik. Oleh sebab itu, beberapa orang menyebut soda api dengan nama soda kaustik. Senyawa ini terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida (NaOH) yang di larutkan dalam senyawa air. Soda api memiliki sifat senyawa Alkalin dimana fungsinya semakin kuat saat di larutkan bersama air. Fumngsi soda api cukup beragam, terutama dalam dunia industry pabrikan manfaatnya sebagai campuran produk kertas, tekstil, sabun, detergen, air minum, serta beberapa percobaan kimia di laboratorium dan soda api akan meninggalkan noda hitam pada kayu atau kain.
            Soda api atau Ntrium Hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelt, serpihan, butira, ataupu larutan jenuh 50% yang biasa di sebut dengan larutan Sorensen. Ia bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika di larutkan, karena proses peralutannya dalam air bereaksi secara eksotermis. Ia juga larut dalam Etanol dan Metanol. Namun ia tidak larut dalam Dietel Eter dan pelarut non-foral lainnya.

C. Pengertian Kualitas
            Seorang pakar marketing dan penjualan pernah menyatakan bahwa “ quality is a must”. Kualitas adalah sebuah keharusan yang harus di jaga dan di tingkatkan bila sebuah perusahaan ingin tetap eksis dalam persaingan penjualan. Bukan hanya karena konsumen adalah raja, namun saat ini konsumen sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan produk barang atau jasa mana yang akan di beli. Konsumen selalu beranggapan bahwa produk atau jasa yang di peroleh harus sesuai dengan uang yang telah di keluarkan.Sehingga penting bagi perusahaan atau pabrik produk barang dan jasa untuk selalu menjaa kualitas agar konsumen tidak berpaling kepada perusaahn atau pabrik pesaing.
Berikut adalah  beberapa pengertian kualitas :
1.      Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kualitas adalah tingkat baik buruknya sesuatu.
2.      Philip Crosbhy
Kualitas yaitu kesesuaian dengan yang di syaratkan.
3.      The International Standars Organization (ISO)
Kualitas adalah totalitas terbaik fitur-fitur dalam karakteristik menyeluruh dari produk atau layanan yang berpengaruh pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu atau kebutuhan yang tersirat.
4.      Iyung Pahan
Kualitas di definisikan sebagai gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yng menunjukan kemampuannya dalam memuaskan hubungan yang di tentukan atau tersirat.
5.      Harvard Businnes School
Kualitas merupakan hal penting bagi sebuah produk atau njasa.Kualitas merupakan salah satu dari tiga factor penting yang mempengaruhi konsumen ketika mereka ingin membeli sebuah produk atau jasa.
6.      M.Suyanto
Kualitas merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai dengan kebutuhan spesifik pelanggan.Kualitas meliputi kualitas kinerja, kualitas kesesuaian, kualitas daya tahan, dan kualitas keandalan.
7.      Evans dan Lindsay
Kualitas merupakan kunci keunggulan bersaing (competitive advantage) yaitu kemampuan sebuah perusahaan untuk mencapai keunggulan pasar. Dalam jangka panjang, keunggulan bersaing yang terjaga akan menghasilkan kinerja di atas rata-rata.
8.      Goetsh dan Davis
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, layanan manusia, proses, lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.
            Jadi dari pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa kualitas adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derajat suatu barang atau jasa yang produknya sesuai dengan kebutuhan spesifik pelanggan.

D. Pengertian Hasil
            Hasil adalah sesuatu yang di adakan (di buat, dijadikan, dan sebagainya) oleh usaha (tanam-tanaman, sawah, tanah, lading, hutan, dan sebagainya).

E. Pengertian Ukiran
            Ukiran berasal dari kata ukir yang berarti seni pahat atau pahatan yang terukir yaitu hasil seni rupa yang dikerjakan dengan proses memahat. Berdasarkan pengertian  di atas dapat di katakan bahwa ukiran adalah kemahiran seseorang dalam menoreh atau memahat gambar pada bahan yang dapat di ukir, sehingga menghasilkan bentuk segi tiga, timbul, dan cekung yang menyenangkan sesuai dengan gambar atau rencana.
            Selain itu, ukiran kayu mempunyai pengertian yang cukup beragam, berikut beberapa pengertian tentang ukiran kayu yaitu :
1.      Ukiran adalah kegiatan mengolah permukaan suatu objek trimatra dengan membuat perbedaan ketinggian dari permukaan tersebut, sehingga di dapat imaji tertentu. Mengukir sering dihubungkan dengan kegiatan memahat, namun dua kegiatan ini berbeda, sebab memahat lebih bertujuan untuk menghasilkan benda tiga dimensi. Misalnya patung.
2.      Ukiran adalah teknik cukilan atau kruwikan yang sambung-menyambung cukilan atau kruwikan dapat mewujudkan bentuk karya yang indah melalui tangan trampil.
3.      Ukiran adalah hasil suatu gambaran yang di buat manusia pada suatu permukaan yang di laksanakan sedemikian rupa dengan alat-alat tertentu sehingga permukaan yang asal mulanya rata menjadi tidak rata atau menjadi kruwikan dan bulatan.
Dari beberapa pengertian ukiran di atas, dapat di simpulkan bahwa ukiran adalah teknik menghias pada suatu benda dengan cara menyusuk, membulat, dan menggores suatu ornamen sehingga menghasilkan bentuk cembung dan cekung sambung-menyambung secara artistik dan estetis.

F. Pengertian Kayu
            Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Kayu digunakan untuk berbagai keperluan mulai dari memasak, membuat perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga dan sebagainya.
            Tumbuhan berkayu muncul di alam perkirakan pertamkali pada 395 hingga 400 juta tahun yang lalu. Manusia telah menggunakan kayu untuk berbagai kebutuhan sejak ribuan tahun. Kayu juga bisa di jadikan referensi sejarah mengenai kondisi iklim dan cuaca di masa pohon tersebut tumbuh melalui variasi jarak antara cincin pertumbuhan. Dimana cincin pertumbuhan adalah gambar pola-pola konsentrik pada penampang melintang kayu. Terbentuknya cincin pertumbuhan kayu ini adalah karena terjadinya perbedaan musim yang di alami oleh pohon tersebut. Pada satu tahun pohon akan mengalami periode dengan pertumbuhan cepat dan periode dengan pertumbuhan yang lambat, dan itu mempengaruhi pertumbuhan diameter batang pohon. Diameter yang bertumbuh cepat, lalu melambat, akan membentuk cincin satu tahun dan seterusnya.
            Sedangkan penyebab terjadinya kayu adalah akibat akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan di batang. Ilmu perkayuan (dendrologi) mempelajari berbagai aspek mengenai klasifikasi kayu serta sifat kimia, fisika, dan mekanika kayu dalam berbagai kondisi penanganan. Dalam setiap jenis kayu memiliki sifat fisik yang bervariasi, yang menentukan kualitas dan fungsi dari kayu tersebut. Misalnya kayu lunak lebih di pilih untuk menjadi kertas karena mudah di hancurkan dan di jadikan pulp. Sedangkan kayu keras di gunakan sebagai tiang bangunan, selain itu, keberadaan fitur tertentu seperti kilot (mata kayu) dan warna juga mempengaruhi.
            Dimana mata kayu (knot) adalah bagian dari kayu yang merupakan dasar dari percabangan atau kuncup yang dorman.Mata kayu ini memiliki pengaruh terhadap kayu dan seringkali berpengaruh negative. Mata kayu ini dapat mengurangi kekuatan kayu, sehingga akan bernlai rendah apabila di gunakan sebagai stuktur bangunan atau keperluan lain, dimana kekuatan menjadi pertimbangan. Namun untuk tujuan seni keberadaan mata kayu dapat meningkatkan nilai.
            Kayu merupakan bahan yang dapat menyerap air di sekitarnya dan dapat mengembang atau menyusut sesuai kandungan ait tersebut karenanya kadar air kayu merupakan salah satu syarat kualitas produk kayu gergajian. Karena keberadaan air di dalam kayu dapat menjadikan kayu lebih lunak dan mudah di bentuk. Selain air kayu juga memiliki tiga komponen utama yaitu:
a.       Selulosa, adalah senyawa polimer kristalin turunan dari glukosa yang mengisi sekitar 41-43% dari kayu.
b.      Hemiselulosa, adalah pentose yang terhubung secara tidak beraturan  dan mengisi 20% pada tumbuhan berdaun lebar dan 30% di konifer.
c.       Lignin, tersusun dari anam aromatic hidrokarbon  yang memiliki sifat hidrofobik dan mengisi sekitar 23% pada tumbuhan berdaun lebar dan 27% pada conifer.
Selain lignoselulosa, kayu terdiri dari berbagai jenis senyawa organic yang di sebut dengan senyawa Ekstraktif yang jumlah dan jenisnya bervariasi tergantung dari spesies pohonnya.Kayu memiliki sifat ekstraktif berupa asam lemak, resin, llin, dan terpena. Senyawa ekstraktif ini memiliki manfaat seperti melindungi batang  kayu dari hama. Senyawa ekstraktif merupakan salah satu dari hasil hutan non-kayu.
            Berikut beberapa jenis kayu beserta penjelasannya yaitu:
1)      Kayu jati
Kayu jati sering di anggap sebagai kayu dengan serat dan tekstur paling indah.Karakteristiknya ang stabil, kuat, dan tahan lama membuat kayu ini menjadi pilihan utama sebgai material bahan bangunan.Kayu jati sangatlah terbukti tahan terhadap jamur, rayap, dan serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati.
2)      Kayu karet
Kayu karet memiliki warna putih kekuningan, sedikit krem ketika baru saja di belah atau di potong. Ketika sudah mulai mongering akan berubah sedikit kecoklatan. Kayu karet tergolong kayu lunak-keras, tapu lumayan berat dengan densitas antara 435-625% kg/m3dalam level kekeringan kayu 125. Sehingga sering di gunakan sebagai substitusi alternative kayu alam untuk bahan konstruksi.
3)      Kayu pinus
Kayu pinus memliki warna merah kecoklatan dan kayu global berwarna kuning dan krem. Garis lingkaran tahun pinus radiate lumayan jelas terlihat sehingga garis serat kayu pada pembelahan tengensial bisa terlihat jelas.
4)      Kayu mahoni
Kayu mahoni memiliki tekstur yang cukupn halus.Seratnya indah dan berwarna merah muda sampai merah tua.Banyak di temui di antara hutan jayi di pulau Jawa, atau di tanam di tepi jalan sebgai tanaman pelindung.
5)      Kayu sonokeling
Kayu sonokeling memiliki serat kayu yang sangat indah, berwarna ungu bercoret-coret hitam atau hitam keunguan berbelang dengan cokelat kemerahan. Kayu sonokeling selain indah juga kuat dan awet sehingga dapat di gunakan sebagai material konstruksi bangunan.Pohon sonokeling hanya tumbuhdi hutan-hutan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur, namun, jumlahnya mulai berkurang.
6)      Kayu merbau
Kayu merbau salah satu jenis kayu yang cukup keras dan stabil sebagai alternative pembanding dengan kayu jati.Kayu merbau juga terbukti tahan terhadap serangga.Merbau memiliki tekstur serat garis terputus-putus karena pohon merbau termasuk pohon hutan hujan tropis, dan pada merbau biasanya di finishing dengan melamin warna gelap/tua.
7)      Kayu kamper
Kayu kamper lebih lama menjadi alternative bahan bangunan yang harganya lebih terjangkau.Meskipun tidak setahan lama kayu jati, kamper memiliki serat kayu yang halus dan indah sehinnga menjadi pilihan bahan membuat pintu panil dan jendela.
8)      Kayu ulin
Kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika basah yang tumbuh secara alami di wilayah sumatera bagian selatan dan Kalimantan. Pohon ulin termaduk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapau 50 m dengan diameter sampai 120 cm, tumbuh  pada daratan rendah sampai ketnggian 400 m. kayu ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut. Kayu ulin banyak di gunakan sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai, kosen, dsan kegunaan lain yang memerlukan sifat-sifat khusus awet dan kuat.

9.      Kayu gelam
Kayu gelam sering di gunakan pada bagian perumahan, perahu, kayu bakar, atau tiang-tiang sementara. Kayu gelam dengan diameter kecil umumnya di kenal dan di pakai sebagai steger pada konstruksi beton, sedangkan yang berdiameter besar bias dipakai untuk cerucuk pada pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu ini juga dapat dibuat arang aktif untuk bahan penyerap.

10.  Kayu akasia
Kayu akasia mempunyai berat jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup rapat sehingga daya serap airnya kecil. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar.Serta berserat lurus terpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel furniture.

G. Pengertian Jepara
            Asal mula jepara menurut C.Lekker Kerker berasal dari kata ujung para.Disebut ujung para karena dahulu ada orang dari majapahit yang sedang berjalan melalui daerah yang sekarang di sebut jepara. Melihat nelayan yang sedang membagi-bagikan ikan hasil tangkapannya “membagi” dalam bahasa jawa adalah “para” (dibaca: poro), maka pengembara tersebut menceritakan di kota tujuannya bahwa dia melewati ujung para karena dia melewati ujung pulau jawa yang ada yang membagi ikan, yang kemudian berubah menjadi ujung mara dan jumpara, yang akhirnya berubah menjadi jepara pada tahun 1950-an. Di ubah menjadi jepara hal itu di buktikan adanya persijap (persatuan sepak bola jepara). Kata ujung dan para sendiri berasal dari bahasa jawa, ujung artinya bagian darat yang menjolok ke laut dan para artinya menunjukan arah ang menjolok ke laut. Para dari sumber yang lain di artikan pepara yang artinya bebakuan mrono mrene, ang kemudian di artikan sebuah ujung tempat bermukimnya para pedagang dari berbagai daerah. Orang jawa menyebut nama jepara menjadi jeporo, dan orang jawa yang menggunakan bahasa karma inggil menyebut jepara menjadi jepanten, dalam bahasa inggris disebut japara, sedangkan orang belanda menyebut yapara atau japare.
            Kabupaten jepara terletak di pantura timur jawa tengah yang bagian barat dan utaranya dibatasi oleh laut.Bagian timur wilayah kabupaten ini merupakan daerah pegunungan.Wilayah kabupaten jepara juga meliputi kepulauan karimun jawa yakni gugusan pulau-pulau dilaut jawa.Dua pulau terbesarnya adalah pulau karimun jawa dan Pulau Kemujaan.Sebagian besar wilayah karimun jawa di lindungi dalam cagar alam laut karimunjawa.Penyebrangan ke kepulauan ini di layani oleh kapal Ferry yang bertolak dari pelabuhan jepara.Karimun jepara juga terdapat bandara Dewandaru yang di darati pesawat dari Bandara Ahmad Yani Semarang.
















 
BAB III
 PEMBAHASAN

Perbedaan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang menggunakan soda api dengan kualitas hasil ukiran kayu jepara yang tidak menggunakan soda api.
            Jepara merupakan salah satu daerah penghasil ukiran kayu yang begitu maju.Tidak hanya di wilayah Indonesia saja, tetapi produksi ukiran kayu jepara sudah sampai ke luar Ngeri.Para pengrajin ukir jepara kebanyakan adalah orang-orang asli jepara yang sudah berlatih dari sejak mereka kecil. Kebanyakan dari mereka itu mengukir untuk kesenangan, yang lain untuk membuat ukiran yang rumit atau sederhana, mebel, atau tanda-tanda untuk mencari nafkah. Padaukiran kayu jepara, kayu yang di gunakan untuk ukiran di kategorikan dalam dua jenis yaitu kayu keras (kayu sonokeling, kayu jati) dan kayu lunak (kayu pinus, kayu sengon, kayu pele, kayu cedar, kayu kapuk, dan kayu mahoni). Para pengrajin jepara rata-rata menggunakan kayu yang paling keras yaitu kayu sonokeling. Karena menurut mereka kayu yang paling keras itu akan menghasilkan ukiran yang lebih bagus.
            Dalam membuat ukiran, para pengrajin jepara menggunakan alat dan bahan sebagai berikut:
v  Alat ukiran kayu jepara
·         Kol, yang bentuknya melengkung
·         Penilap, untuk membersihkan
·         Coret, untuk mremberi corak
·         Penukuk, yang berbentuk bulat-bulat atau bengkok
·         Gergaji mesin
v  Bahan ukiran kayu jepara
·         Akar kayu
·         Akar bamboo
·         Batang kayu

14
 
Dalam proses pengukiran jepara, juga dikenal dengan istilah finishing. Proses finishing adalah pekerjaan tahap akhir dari suatu proses pembuatan produk mebel. Pada ukiran kayu ini kebanyakan dari mereka menggunakan bahan kimia Soda Api dalam proses finishingnya. Alas an kenapa mereka menggunakan soda api pada proses finishingnya yaitu karena soda api dapat berpengaruh besar untuk menghasilkan ukiran yang lebih berkualitas, yang dapat membuat para konsumen tertarik untuk memilikinya. Pengaruh yang dapat ditimbulkan dari soda api pada ukiran kayu jepara diantaranya yaitu:
1.      Untuk memutihkan kayu
2.      Membersihkan kayu yang lapuk
3.      Menghilangkan getah yang tersisa pada kayu dengan mengeluarkan getah kayu selama proses pengecatan
4.      Menghilangkan noda-noda hitam pada kayu
5.      Mencegah penembusan rayap sehingga kayu dapat bertahan lama.
Namun tidak semua ukiran jepara menggunakan soda api, ada juga yang tidak menggunakan soda api dalam proses finishingnya. Tentunya kayu yang menggunakan soda api dengan kayu yang tidak menggunakan soda api hasilnya akan mengalami perbedaan.
            Perbedaan antara kayu yang menggunakan soda api dengan kayu yang tidak menggunakan soda api dapat terlihat pada gambar berikut
Description: 01012009(047).jpg  Description: 01012009(011).jpg            Gambar 1.1                                                         Gambar 1.2
Kayu yang menggunakan soda api             kayu yang tidak menggunakan soda api

Berdasarkan gambar di atas terlihat perbedaan antara ukiran yang menggunakan soda api dengan ukiran yang tidak menggunakan soda api. Namun untuk lebih jelasnya perbedaan ukiran yang menggunakan soda api dengan ukiran yang tidak menggunakan soda api dapat di uraikan sebagai berikut:
1.      kayu yang menggunakan soda api hasilnya akan lebih putih dari kayu yang tidak menggunakan soda api.
2.      Kayu yang menggunakan soda api dapat bertahan lebih lama disbanding dengan kayu yang tidak menggunakan soda api.
3.      Kayu yang menggunakan soda api tampak lebih bersih dengan  tidak ada noda atau bercak-bercak di banding dengan kayu yang tidak mengunakan soda api.
4.      Kayu yang menggunakan soda api akan tampak lebih ringan di banding dengan kayu yang tidak menggunakan soda api.
Soda api memang memiliki sifat melarutkan bila bercampur dengan air. Jadi tak perlu heran jika para pengrajin jepara lebih memilih menggunakan soda apidibanding dengan bahan kimia yang lain dalam proses finishingnya. Karena selain dari pada itu penggunaan soda api pada ukiran kayu jepara juga tidak terlalu rumit untuk di lakukan. Berikut ini penjelasan mengenai cara penggunaan soda api pada ukiran kayu jepara.
            Pertama, campurkan soda api dengan air, lalu hapus bagian dari setiap permukaan kayu atau mengahapus setiap item yang mungkin akan terpengaruh oleh proses pembersihan. Cara terbaik untuk bekerja pada daerah kecil pada suatu waktu adalah tumpang tindih setiap daerah dan bekerja dari atas ke bawah, dan tidak membiarkan pembersih kering di kayu. Jangan menggosok dasar kayu dengan sikat berbulu lembut, karena itu akan menimbulkan kayu berubah warna menjadi cokelat tua. Setelah itu terapkan soda api pada bagian seluruh kayu, lalu bilas secara menyeluruh dengan air, maka kayu akan muncul jauh lebih ringan dan bersih. Jika masih ada noda, tetap ulangi proses, kayu akan meringankan lanjut karena mongering. Jangan menggunakan wol baja untuk membersihkan kayu, karena itu akan menghasilkan bintik –bintik karat pada kayu.
            Soda api memang banyak manfaatnya, namun di balik semua itu, soda api menimbulkan efek negative pada tubuh. Soda api memang cukup keras, lihat saja pada pemanfaatannya sebagai bahan untuk mengelupas bintik-bintik/cat. Dalam dunia medis, soda api memang di kenal sebagai unsur yang melarutkan jaringan lemak. Maka dari itu, hindarilah sentuhan langsung pada soda api. Gunakanlah sarung tangan karet dan kecamata pada saat menggunakan soda api. Karena saat kita bersentuhan langsung dengan soda api kulit kita akan terasa panas dan gatal. Apabila kita terkena soda api sebaiknya kulit yang terkena soda api cepat-cepat di bersihkan dengan air bersih agar kita tidak terasa lebih gatal dan panas serta untuk menghindari dari berbagai penyakit yang dapat di timbulkan dri soda api.



























 
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.SIMPULAN
1.      Jepara merupakan salah satun kota penghasil ukiran kayu yang besar dan begitu maju di Indonesia.
2.      Kayu yang di gunakan pada ukiran kayu jepara di kategorikan dalam dua jenis yaitu kayu keras (kayu sonokeling dan kayu jati) dan kayu lunak (kayu pinus, kayu sengon kayu pele, kayu cedar, kayu kapuk dan kayu mahoni).
3.      Sebagian dari ukiran kayu jepara menggunakan soda api, namun sebagian pula tidak menggunakan soda api pada proses finishingnya. Tentunya kayu yang menggunakan soda api dengan kayu yang tidak menggunakan soda api hasilnya akan mengalami sedikit perbedaan.
4.      Soda api merupakan senyawa basa logam kaustik yang terbentuk dari oksida, basa natrium oksida yang di larutkan dengan senyawa air.
5.      Soda api mempunyai pengaruh yang positif pada ukiran kayu, namun mempunyai dampak negative bagi tubuh jika kita tidak berhati-hati dalam penggunannya.

B.REKOMENDASI
1.      Manfaatkanlah kekayaan alam yang melimpah dengan sebaik-baikny agar menjadi sesuatu yang bernilai ataupun berguna.
2.      Bagi kota jepara, pertahankan serta tingkatkan produk mebel ukiran kayu jepara agar tetap berkualitas dan di segani oleh seluruh masyarakat baik itu di dalam maupun di luar negeri.
3.      Bagi sekolah, semog penelitian selanjutnya ke lokasi penelitian yang banyak memberikan khasanah ilmiah yang sangat berguna bagi siswa-siswi pelajar untuk menambah ilmu terapan yang lebih baik.
4.     

18
 
Bagi para siswa-siswi yang membaca karya tulis ini di harapkan dapat memahami dan mengerti tentang pembuatan karya tulis, dan memahami manfaatnya dalam karya tulis tersebut.


18
 
 DAFTAR PUSTAKA


id.m.wikipedia.org/wiki/ukiran
faith-oi.blz/definisi_dan-pengertian-pengaruh_menurut_para-ahli.html
carapedia.com/pengertian_definisi-kualitas_info2137.html
id.m.wikipedia.org/wiki/kualitas
id.m.wikipedia.org/wiki/kayu
cahya.teach.blogspot.com/2014/11/bahan-kayu-dan-pengertian.html
japaras.blogspot.com/2012/11/sejarah-asal-usul-nama-kota-jepara.html
id.m.wikipedia.org/wiki/kabupaten.jepara
m.artikata.com/arti-329634-hasil.html
id.m.wikipedia.org/wiki/natrium_hidroksida
m.rumahku.com/berita/read/manfaat-soda-api-407351
koetjaningrat.1983.metode-metode penelitian masyarakat. Jakarta: gramedia
karya tulis program IPA di SMA Negeri Darmaraja: tidak diterbitkan.

















LAMPIRAN

Description: 01012009(047).jpg
Gambar 1
kayu yang menggunakan soda api




Description: 01012009(011).jpg
Gambar 2
kayu yang tidak menggunakan soda api

Description: 01012009(031).jpg
Gambar 3
produk ukiran kayu jepara




Description: 01012009(012).jpg
Gambar 4
pengrajin dan alat-alat ukiran kayu jepara


Description: 01012009(021).jpg
Gambar 5
pengerjaan ukiran kayu jepara


Description: 3421984_causticsodaflake.jpg

Gambar 6
Soda api dalam bentuk kepingan
AUTOBIOGRAFI
            Penulis di lahirkan di kota kabupaten sumedang, tepatnya di dusun Cinaglang RT 04 RW 01 Desa Neglasari Kecamatan Darmaraja Kabupaten Sumedang pada tanggal 13 Oktober 1997, dari pasangan suami istri Bapak Emis Mahmudin dan Ibu Eti Siliwati. Penulis merupakan anak ke tiga dari 3 bersaudara.Setelah menamatkan Sekolah Dasar di SDN Pataruman kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 2 Darmaraja da selesai mendapatkan ijazah tahun 2013.Setelah tamat Smp penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Negeri Darmaraja dengan jurusan IPA pada tahun 2013 hingga sekarang.
            Demikian riwayat hidup penulis, mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan cita-cita atau keinginan penulis untuk mengembalikan rasa terima kasih kepada Orang Tua dan Bapak/Ibu Guru yang telah memberikan Ilmu pengetahuan kepada penulis. Mudah-mudahan amal baik mereka dapat di lipat gandakan oleh Allah SWT.


















1 comments: