Thursday 28 May 2015

KUMPULAN CERPEN BAHASA INDONESIA

KUMPULAN CERPEN BAHASA INDONESIA

1.             Cinta Sejati
Kartika Dewi adalah murid SMU Nusa Bakti, dia adalah primadona satu sekolah, dia cantik, pinter, jago menggambar dan menulis puisi.puisi yang ia buat selalu tampak di majalah dinding sekolah. Semua yang ia miliki membuat cowok satu SMA segan padanya suatu hari ia sedang berjalan dikoridor sekolah. Bu Yani salah satu guru mata pelajaran matematika diikuti salah satu cowo di belakangnya berjalan menuju ruang kepala sekolah. Tak lama kemudian mereka keluar dan menuju kelas XI IPA 1 saat di pintu kelas Kartika bertemu dengan Bu Yani dan Kartika bertanya.
Description: http://proto.areamagz.com/alpha/backend/media/data/entry_images/2010/10/18/mata-air-areamagz_full.jpg“Pagi bu, kalo boleh tahu tadi yang datang bersama ibu siapa ya?”
“Oh, tadi murid baru dari Semarang.” Jawab Bu Yani.
Kartika teringat Adit sahabat lamanya yang pindah ke Semarang, yang sudah lama tidak bertemu, Adit bukan hanya sahabat tapi ia pernah mengatakan kalau dia sayang kepada Kartika,
Ia lalu melihat kedalam kelas ternyata dia mirip dengan Adit sahabat masa kecilnya, bel sekolah pun berbunyi ketika langsung masuk ke kelas pas hari itu juga pelajaran bu Yani. Adit pun di suruh memperkenalkan diri Kartika bingung apakah dia Adit yang selama ini dia kenal.
“Pagi teman-teman,perkenalkan nama saya Aditia Wijaya. Saya baru pindah dari Semarang.” Kartika pun melamun ia berniat ingin bertanya kepada Adit tentang mereka. Kelas kembali belajar tak lama bel istirahat berbunyi Kartika bersama temannya masih dikelas sedangkan yang lainnya menghampiri Adit yang ganteng tinggi dan putih minta foto, no telepon, pin bb ahh pokoknya segalanya pada sibuk.
Karena keadaan resah, berisik Kartika keluar kelas menuju kantin, semuanya cowo antusias bertanya kepada Kartika ingin mencari perhatian siprima dona satu SMU itu.
Saat Kartika makan bakso, ada seseorang berkata.
“Maaf mau tanya, kalo perpustakaan dimana ya?”
Kartika berhenti sejenak memakan bakso, sepertinya ia kenal suara itu. Kartika pun melirik ternyata ia murid baru “hai, boleh duduk disini?” kebetulan Kartika ingin bertanya dan meyakinkan kalo dia Adit sahabatnya.
“Boleh, duduk aja” jawab Kartika.
“oh iya, kita kenalan dulu nama kamu siapa?”
“nama aku Kartika Dewi. Kamu tinggal dimana dit?”
Kartika mulai kepo. “aku tinggal di komplek Dian Permai kalo kamu?”
“Aku juga tinggal disekitar kompleks” jawab Kartika dengan cuek.
“Kamu bias anatar saya keliling SMU ini?”
“Sekarang”. Tanya Kartika.
“Iya” jawab Adit.
Mereka pun bergegas pergi, saat di koridor semua anak cowo melihat keanehan Kartika baru bisa akrab dengan seorang cowo apalagi kaum wanita pada berbicara apa aja karena sirik melihat Adit dekat dengan Kartika.
“Kalo boleh bisa aku minta no hp kamu biar aku bertanya tentang sekolah sama kamu?”
“Boleh asalkan jangan kasihkan ke anak cowonya.”
“OK.” Jawab Adit.
Mereka ngobrol-ngobrol dan pergi keliling ke semua sudut SMU bel masuk dan mereka masuk sekolah tak lama bel pulang berbunyi Adit menawarkan Kartika untuk pulang bareng tapi Kartika menolak.
Sesampainya dirumah Hp Kartika berbunyi Adit menelpon Kartika mereka pun bercanda tawa. Esok harinya mereka berangkat bersama, disekolah pun selalu lengket. Suatu malam Adit bermain ke rumah Kartika.
“Dit aku mau tanya. Siapa nama mamah sama ppa kamu?” Adit tidak menjawab alasannya tidak tahu padahal Adit sebenarnya tahu. Semakin lama ketika semakin yakin kaol ADit adalah orang yang ia sayang dengan apa yang Kartika tanya tentang keluarganya Adit tidak pernah menjawab sekalipun.
“Adit sebenarnya apa yang kamu rahasiakan?” tanya kartika.
“Rahasia, apa maksudnya aku tidak mengerti” jawab Adit.
“sebenarnya kamu Aditia Purnamakan teman ka waktu kecil, kamu ingat itu kita selalu bermain di taman, bermain layang-layang, jawab Adit?”
Adit hanya diam dan tersenyum lalu berkata “aku sayang kamu Kartika. Kamu cantik, pasti setelah besar nanti kamu banyak disukai cowo, aku pernah mengatakan itu untuk orang yang aku sayang, dan aku rela jatuh dari pohon manga karena digigit sama semut yang sebenarnya aku takut manjat pohon. Tapi aku lakukan demi orang yang aku sayang, kamu ingat itu Kartika, benar aku Adit Purnama, tapi saat di Semarang nama ku berubah menjadi Aditia Wijaya dan aku datang ke sini untuk menepati janji kau. Kalo aku masih sayang sama kamu”
“bearti benar kamu Adit”, kartika tersenyum dan memeluk Adit.
“Ya aku disini untuk kamu. Maafkan aku selama ini telah jauh meninggalkan kamu.” Kartika hanya tersenyum.


2.             Sakitnya Menyayangi Dia
Hari ini angin berhembus kencang membawa kesejukan hati, dihalaman depan rumah aku terduduk diam, seakan-akan menatap jauh kedepan, berharap akan menemukan ketenangan, namun yang kurasa hanya sakit yang beramat dalam. Setelah lama mengurung hatiku pada cinta, akhirnya baru kusadari betapa dalamnya cinta itu telah melukai hati ini.
Kisahku dengannya selama 1 tahun bersama telah usai lah, hilang begitu cepat demi perempuan lain. Jalinan cinta dan perasaan kurasa harus hancur tenggelam tanpa bekas. Semua berubah, kebahagiaan yang kudapatkan dari cinta dihatiku untuknya sekejap hilang, hancur dan meninggalkan luka.
Saat ini dalam sepi kuhanya terdiam dan membisu. Aku tau memang semua telah terjadi, tapi rasa takutku dan sakitku tak pernah hilang dari benakku.
Kadang hal yang diharapkan belum tentu jadi kenyataan. Banyak orang yang menganggapnya takdir tuhan. Kucoba mengukir sebuah senyuman dibibir. Seolah-olah aku adalah orang yang paling tegar dan orang yang takkan jatuh begitu saja.
Aku teringat ketika dia melontarkan sebuah kalimat : “Aku sangat mencintai dan menyayangimu” katanya saat itu.
Tapi saat ini telah berubah, saat itu aku benar-benar terluka, terpuruk, dan ku tahan air mata ini, aku tidak ingin terlihat terlihat lemah. Meski saat itu aku terluka, aku sakit dan aku tidak ingin menyesali keputusannya …. Tidak akan pernah kusesali !!
Pada hari minggu sore tepatnya. Aku dan dia tidak sengaja bertemu disebuah tempat. Aku masih ingat ketika pertemuan tidak sengaja itu. Lalu dia mengajakku untuk mengobrol-mengobrol sedikit tentang cinta barunya.
Selama beberapa menit kemudian dia terdiam seperti orang bingung. Tak lama kemudian dia berkata kesekian kalinya.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu!” ujarnya.
Aku membalasnya dengan senyuman kecil. Aku sangat bingung harus berkata apa. Meski aku sangat ingin bersamanya, lebih lama lagi tapi takdir berkata lain. Aku teringat ketika dia sering memintaku untuk jangan pergi dan selalu mensupportnya, jadi penyemangat hidupnya ataupun ketika dia jatuh. Pada akhirnya dia pula yang memintaku untuk pergi dari kehidupannya.
“Kenapa harus minta maaf, yang dulu biarlah berlalu.” Jawabku dengan tenang.
“Aku takut kamu terluka gara-gara aku.” Ujarnya kembali.
Aku hanya terdiam tanpa sebuah kalimat.
“Maaf, aku baru mengakuinya sekarang, aku tahu kamu pasti akan membenciku, kini aku sadar, bukan dia yang begitu tulus menyayangiku, tapi kamulah yang menyayangiku dengan tulus tanpa adanya kebohongan, jujur aku menyesal setelah kamu benar-benar pergi, aku menyesal telah membuatmu kecewa. Aku juga menyesal lebih memilih dia dibanding kamu yang jelas-jelas kekasihku (dulu). Aku telah sia-siakan kamu begitu saja. Bahkan aku selalu melampiaskan semua amarahku padamu.” Jawabnya dengan penuh penyesalan.
“Tapi kamu sangat egois dan sudahlah apa kita bahas permasalahan ini, lagi pula kamu sudah bahagia bersama dia kan?” Jawabku.
“Iya maaf, aku tau, aku egois tapi masih bisakah kita selalu bersama lagi?”
“Buat apa kamu tanyakan hal itu, apakah itu penting bagimu??” Tanyaku kembali.
“Aku tidak ingin kamu pergi, tolong maafkan aku, tapi bisakah kita bersama lagi, tolong jawab.” Tanyanya dengan penuh harap.
“Aku selalu memaafkan semua kesalahanmu sebagai teman kuterima, tapi sebagai kekasih lagi kurasa tidak, karena cinta bukan mainan untuk kita dan sudah jelas dia sangat menyayangimu, jangan sia-siakan orang yang telah menyayangimu, lupakan aku, aku tak mengapa, lagi pula aku sudah merelakanmu.”
“Tapi ….!!!”
“Sudahlah jangan kau sesali mungkin ini takdir kita, dan kita pun harus terima, aku yakin kamu pasti bisa bahagia bersamanya, tolong jaga dia jangan sampai kamu rusak kebahagiaannya seperti aku selalu membahagiakanmu.” Kataku (tegar).
“Kuharap kamu menerima ku kembali walau sebatas teman/sahabat terbaikmu.” Ucapnya kembali.
“Iya aku ngerti, aku tidak ingin ada dendam/benci diantara kita, dan ingin kita selalu baik-baik saja. Kenangan kita takkan ku lupa ketika kita masih bersama, kita pernah menangis, tertawa, bahagia bersama. Semua kenangan itu akan selalu ku ingat dan akan selalu membekas dihati, maaf jika selama ini aku tidak bisa membahagikanmu.” Aku berkata sambil meratap matanya.
Aku berlalu pergi, meninggalkannya sendiri ditempat itu. Sebelumnya aku melihat raut wajahnya seperti kebingungan. satu sisi rasa yang ia punya pada kekasih barunya tak pernah hilang, dan satu sisi dia tidak ingin mengecewakanku. Tapi memang berat berada diposisi antara cinta pertama dan orang asing yang sudah lama membuatnya nyaman iya aku tau kamu mencintainya bahkan sangat-sangat mencintainya tapi akupun harus berusaha untuk mengiklaskannya, mungkin dia lah orang yang paling kamu sayangi. Aku yakin kamu pasti bahagia bersamanya.
Akhirnya akupun bahagia menikmati hidupku sendiri, karena aku mempunyai teman, sahabat dan keluarga yang selalu ada untukku, dimana aku terjatuh kejurang yang paling dalam. Aku pun disarankan oleh orang tua agar akku tidak berpacaran lagi selama aku masih berstatus pelajar dan agar mencapai prestasiku untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Karena rencana tuhan lebih indah daripada rencana yang kita bayangkan. Biarlah air mata yang menetes hingga terus mengalir menemani hari-hariku. Kujadikan ini semua sebagai pelajaran hidupku untuk kedepannya.
Hanya waktu yang mampu mengerti saat senyum dan tangis menyatu. Tapi ini terbaik untukmu dan untukku, semoga cerita cinta ini menjadi kenangan yang tidak dapatku lupakan.

3.             Ternyata Jatuh Cinta Repot Juga
SMU 99 Jakarta adalah tempat Ririn bersekolah. Ia kelas XI IPA 1 dimana kelas itu ditempati oleh siswa dan siswi pintar, cantik dan berprestasi. Salah satunya Ririn. Tapi ia enggan untuk bergaul tiap dikelas atau dimanapun selalu ditemani buku. Setiap hari hanya ke kantin untuk makan siang setelah itu pergi keperpustakaan. Karena sikapnya yang aneh itu ia selalu menjadi sorotan siswa-siswi satu SMU. Ade seseorang cowo yang agak culun tapi ia pintar membuat puisi. Ia pernah menyatakan cinta pada Ririn tapi ditolak. Sampai saat ini ia masih mengagumi Ririn, nama cowo itu Rendi ia selalu membuat pusis tentang Ririn dan hasilnya selalu dimuat di majalah dinding sekolah. Suatu hari Ririn melihat puisi tersebut dari sekian banyak puisi yang dibuat hamper semua puisi itu mengarah untuk Ririn yang isinya, Ririn di sama-samakan dengan bunga, benda, dari yang lainnya, membuat Ririn marah dan ingin tahu siapa yang membuatnya.
Pagi hari saat Ririn pergi sekolah ia berangkat dengan teman-teman yang lain. Sampai didepan gerbang ada Pa Wijayanto guru kimia yang menunggu kedatangan Ririn. Saat tiba “Pagi Ririn, perkenalkan ini Bastian murid baru sekolah kita” kata pa Wajayanto.
“Pagi juga pa, oh iya, ada yang bias saya bantu pa?”
“Bapak tidak akan lama dating kesekolah, karna akan berangkat technical meeting untuk bulan bahasa. Bisakah kamu bantu bapak untuk membawa Adit kekelasmu, dan jika ia bosan tolong ajak Bastian keliling sekolah kita, kamu mau bantu bapak?”
“Baik pa!” jawab Ririn
Mereka bergegas kekelas dan waktu masuk pun berbunyi. Setelah lama dating guru mata pelajaran matematika dan menyuruh Bastian memperkenalkan diri.
“Pagi semua, perkenalkan nama saya Bastian saya baru pindah dari Semarang”
Semua murid cewe antusias bertanya karena  ketampanan Bastian menarik perhatian, sampai bel istirahat berbunyi.
“Kamu tidak jadi untuk keliling- keliling melihat sekitar sekolah” Tanya Ririn.
“Tidak aku disin dulu masih asik sama anak cewe, besok saja boleh”
“Baguslah aku juga punya urusan dulu” jawab Ririn. Ririn pergi untuk mencari tahu siapa yang si pembuat puisi sebenarnya dan akhirnya ia bertemu denga Rendi si culun dan ia mengakui kalau ia yang membuat puisi untuk Ririn karena ia masih mengkagumi Ririn ya jelas Ririn marah karena ia tidak suka dirinya dijadikan objek puisi. Ririn memarahi Rendi di depan umum dengan penuh amarah tanpa banyak bicara lalu Rendi pergi dan tak muncul lagi, tapi ririn merasa puas dengan apa yang dia lakukan.
Esok harinya Bastian menyuruh Ririn menemaninya untuk berkeliling melihat sekitar sekolah dan semakin hari mereka semakin dekat dan pada suatu pagi Ririn sedang berjalan datang Bastian.
 “Rin, ayo kita berangkat bareng?”
“makasih duluan aja” jawabnya.
“Masa anak cewe jalan sendiri apalagi waktu sudah siang nanti terlambat”. lalu Ririn pun terpalsa ikut bersama Bastian. Malam harinya bastian mengajak makan malam kepada Ririn, disanah Bastian mengatakan cintanya pada ririn akhirnya mereka jadian, tapi pas siang hari Bastian pergi ke kafe bersama cewe lain dan Ririn mengikutinya ternyata itu cewe pacarnya Bastian juga.
“Bastian, aku mau ngomong sama kamu bias-bisanya kamu selingkuh padahal baru semalam kamu bilang suka sama aku”. Bastian hanya diam saja bilang minta maaf.
“Hubungan kita sampai disin saja, aku kecewa sama kamu.“ Ririn langsung pergi.
Esok harinya Bastian mengajak berangkat bareng lagi ke ??Ririn alasanya untuk tanda maaf Bastian. Ririn pun ikut, tapi pas ditengah jalan mobil Bastian berhenti.
“Kalo lam uterus berbicara kamu turun!”
Setelah itu ririn pun turun karena masih kesal dan tidak mau melihat Bastian lagi.
Pagi harinya Bastian kembali meminta maaf tapi ditolak abis-abisan sama Ririn. Tak lama datang, segerompolan cewe yang melihat cowoyang lebih tampan dari Bastian yaitu Rizki Purnama Ramadhan. Ririn meninggalkan Bastian dan menuju ke Rizki.
“Kamu Rendikan?” tanya Ririn.
“Bukan, aku Rizki”
“Kamu tidak bias bohong, aku tahu persis siapa kamu, kamu Rendikan?”
“Ya aku Rendi si pangeran puisi yang selama ini sangat mengagumi kamu Ririn.”
“Maafkan aku. Waktu itu aku pernah menegurmuy dan puisi ciptaanmu, aku tidak sangka kalau puisimu kini jauh lebih terkenal.”
“Ya yang sudah biarlah berlalu, da nada bagusnya juga kamu menegurku, karena itu aku makin semangat untuk menciptakan puisi yang keren. Apakah kamu akan menolak ku lagi untuk perasaanku yang selalu sayang sama kamu Rin?” tanya Rizki.
“Tentu tidak, aku mau ko.”

Semuanya terharu dan akhirnya mereka saling mencintai dan melengkapi.

0 comments:

Post a Comment